Just Your  Productive Teacher 

Percabangan dimulai ketika aku diminta mengajar di salah satu SMK swasta yang ditempuh sekali naik elp, dilanjutkan naik angkutan pedesaan/KS atau naik ojeg. Namanya SMK Sima Bangsa Depok. 

Sudah tiga tahun, aku mengajar pelajaran produktif jurusan Rekayasa Perangkat Lunak disana. Jumlah siswanya lebih sedikit dan didominansi siswa perempuan. Terbayang kan ramenya. Ya, contoh saja ketika praktikum lalu menemukan syntax error, maka bersiaplah mendengar, “Ibuu…!” 

Apalagi saat mereka melihat Mamang Cilok melintas, semuanya akan serempak memanggil mamang itu. Sangat serempak-nya melebihi saat menjawab soal algoritma. 

Saat ini, aku hanya satu-satunya guru produktif disana. Kadang rasa bersalahku muncul jika harus absen demi menyelesaikan tugas negara di sekolah sebelah. Bukan sekali. Kadang berkali-kali dalam sebulan. 

Maaf. 

Berharap ada beberapa guru produktif yang muncul sebagai seri dan ikut membantu. Mereka yang bisa fokus tanpa adanya tugas negara tetangga. 

Tetap semangat ya, Nak..! Jangan tinggal sholat.. jangan lupa berdoa.. jangan lupa bahagia.. ūüėä

Iklan

Selamat Hari Guru

Hari ini hari guru yang ke 4 dimana aku jadi seorang guru. Dan sepertinya masih senang menunggu upacara peringatannya serta deg-degan saat dinyanyikannya lagu Hymne Guru. Pertama kali, aku mendengarnya ketika masih mengajar di sekolah swasta yang sederhana. Di saat itu, aku terharu dan bahagia. 

Bersyukur. Sangat bersyukur ketika menemukan bahwa aku akhirnya menjadi seorang guru. Ia bukan cita-citaku, namun ia mengalahkan mimpiku menjadi seorang pengarang atau pelukis. Ia membuatku lupa bahwa aku adalah seorang penyendiri.  Ia menjadi takdirku bahwa di sekolah lebih menantang daripada bekerja di rumah, hanya berduaan dengan laptop. Di sekolah, lebih bermanfaat. 

Tentu saja. 

Sampai detik inipun, masih banyak kesalahan yang aku lakukan. Namun aku masih belajar menjadi guru yang baik. 

Aku masih ingin berusaha membuat anak-anak itu hebat. 

Menginspirasi mereka. 

Aku ingin jadi bermanfaat. Bismillah.

Selamat Hari Guru! 

Belum Lulus

Beberapa bulan terakhir, semakin sadar apa yang sering muncul di beranda Facebook atau Instagram. Ya, itu adalah banyaknya teman sekolah yang memposting foto dengan suami atau istrinya, atau anaknya. Malah ada yang krucilnya lebih dari satu. Ada juga sih yang tidak pakai poto, tetapi berupa dialog antara Mas dan Adek. Atuuh, sami mawon. Bikin baper berderajat-derajat. 

Di tempat kerja, lain lagi. Ada seorang bapak yang menempelkan foto dan anak-anaknya di antara kaca mejanya. Kunci mobilnya juga diberi gantungan kunci bergambar istrinya. Luar biasa. 

Ada juga yang masih sering berdua-duaan dengan istrinya. Sama-sama sayang, sama-sama tersenyum, sama-sama paham, hingga membuat mereka berdua tambah mirip air wajahnya. 

Di luar orang-orang tadi, masih ada seseorang lagi yang justru bercerita tentang hal yang membuat airmatanya mengalir. Tetapi terakhir kali bertemu, sepertinya airmata itu tidak lagi menyakitkan. Semoga saja. Aamiin. 

Dan terakhir, ini adalah bab orang yang sedang dilanda kebosanan dengan pasangannya. Pelampiasannya pun subhanallah.. Sebagai rekan kerjanya, aku hanya mengatakan, “you have had a perfect women in your life”.

Dan tulisan ini diakhiri dengan obrolan dua perempuan yang masih gemes dengan pangerannya masing-masing. 

“Bu Af, pak tiiiit, udah tunangan loh,” 

“Oh ya? Alhamdulillah,” 

“Bu Af, pak tiiiiiiit juga mau nikah loh,” 

“Oh ya, kapan?” 

“Tahun depan. Semoga kita juga tahun depan ya Bu?” 

“Aamiin,” aamiin bareng-bareng. 

“Iya ya Bu, ibarat sekolah, kita tuh belum lulus. Dan tahun depan kayaknya kelulusan angkatan terakhir,” 

Algoritmanya 

Apa yang aku dengar, yang aku lihat, yang aku rasakan, itu adalah input. Ketika yang aku dengar berupa bentakan, kemarahan, dan keluhan. Kau tahu betapa keras processing-nya agar outputnya tidak sama seperti itu. Algoritmanya diubah agar marah bisa berbalas tenang, bentakan bisa berbuah senyum dan keluhan bisa menjadi semangat.

Ketika yang aku lihat dan aku rasakan adalah penjejalan atas kesedihannya, aku berkata bahwa kau hanya perlu merasa cukup.

Tapi ya begitu, susah.

Kau bilang, mungkin aku belum paham, hanya berteori. Lalu apa aku akan sepertimu juga? Menebarkan hal-hal negatif. Sama-sama marah. Sama-sama membentak. Sama-sama mengeluh. Sama-sama mengikat dunia.

Dan aku rasa, jika algoritmanya sama sepertimu, apa aku bisa bahagia?

Ndak Peka

Kadang aku tidak peka pada hal-hal tertentu semisal membereskan apa yang seharusnya dibereskan, menyiapkan apa-apa yang harus disiapkan, dan semacamnya. Butuh trigger. Baca: perintah. 

Tentang masak juga. Sering bertatapan dengan kompor, wajan, ketel, telor, minyak goreng, dan kawan-kawan. Tapi ya hanya sekadar itu. Sekadar bertatapan. Namun ketika aku dan mereka bekerja sama, ahh.. outputnya ndak indah. Contohnya dadar ancur plus keasinan. Hasil lumayan hanya terjadi pada keluarga mie rebus (atau mie goreng). 

Ya, kebanyakan ngentry, keseringan pegang mouse. Sekalinya mouse diganti spatula, hasilnya uwow sekali. 

Heeey… Sedikit-sedikit aku belajar. Terus belajar. 

“Anything can happen, Mba”¬†

Aku dan adik perempuanku malam itu jadi supporter Adik Marq di tipi. Bukan supporter bayaran, bukan karena tingkah lucunya juga. Kami sepertinya hanya cari alasan agar nonton balapannya seru. Ya, adik sebetulnya mendukung Kaka Jorge, tapi karena ndak ada peluang menang ya menggaet Adik Marq. 

Awal balapan agak optimis karena posisi Adik Marq aman, sementara Kaka Dovi ada di urutan ke-6. Lalu aku melihat sisa putaran. Masih panjang sih tapi aman lah kayaknya, pikirku.

“Anything can happen, Mba,” kata Adik. 

Aku tersenyum sambil mengiyakan. 

Kemudian kami mulai berbicara beberapa alur: Walaupun Kaka Dovi menang balapan, Adik Marq masih tetep menang. Intinya, jangan sampai Adik Marq out sampai tidak dapet point. Oh, atau Adik Marq boleh jatuh, tapi dengan catatan Kaka Dovi juga jatuh. 

Akhirnya, drama itu muncul di hadapan mata. Adik Marq hilang fokus (mereun telinganya nging… nging… nging… gara-gara kami obrolin tah?). Beruntung tidak sampai jatuh. Hanya mundur urutan. Lanjut lagi ada Kaka Jorge yang jatuh. Kaka Dovi juga ikutan. 

Hidup pun kadang begitu. Ada hal-hal yang bisa terjadi di luar rencana. Kau mau merencanakan sesempurna apapun, ketika Dia berkata No, maka selesai. 

Lalu takut kah? Cemas kah? 

Sungguh. Tidak ada yang menyayangimu melebihi Allah. Maka, kau boleh berencana namun Allah lah yang memutuskan. Yakinlah, Dia Maha Baik. Dia, pemilik skenario terbaik. Tetap ikhtiar, semangat, dan berpikir positif. Selalu berdoa. Dan jangan jauh-jauh dari Allah. 

Awal Lagi

Kau tau, kenapa aku lama tidak menulis lagi? Karena aku sudah menemukan seseorang yang bisa mendengarku langsung. Dan aku mengatakannya langsung. Lalu ketika seseorang itu sibuk, emosiku langsung kalang kabut seperti balon yang sedang dikempeskan. Aku marah-marah lagi. Aku sering kesal. Sensitif. 

Aku cari pelampiasan. Aku sibuk bekerja. Pekerjaanku menumpuk. Ini itu. Tetapi aku malah tambah stres. 
Pelampiasan lain adalah tidur. Tetapi ketika bangun, ceritanya masih sama. Tidak ada yang berubah. 
Aku menulis cerpen, mentok. Aku ikut lomba, tidak terkejar. 
Seseorang bertanya, Kenapa? 
Aku jawab, tidak tahu. Dalam hati, dia lah sumber emosiku. 

Tapi bukan seperti itu. Yang salah itu aku. 

Aku cari lagi. Lalu aku ingat, aku sudah lama tidak menulis. Bukan menulis cerpen atau novel, karena menuliskannya dalam emosi labil malah depresi. Aku menulis apa yang aku rasakan. Hal yang sepele, hal yang menyenangkan, mengecewakan, apapun, persis apa yang ingin aku ceritakan pada seseorang. 

Iya. Hari ini, aku mulai bercerita lagi. Menulis lagi. Aku tidak akan memaksa otakku untuk menemukan ide cerpen atau novel. Menulis apa saja. Yang tidak penting sekalipun. 

Bismillah