Algoritmanya 

Apa yang aku dengar, yang aku lihat, yang aku rasakan, itu adalah input. Ketika yang aku dengar berupa bentakan, kemarahan, dan keluhan. Kau tahu betapa keras processing-nya agar outputnya tidak sama seperti itu. Algoritmanya diubah agar marah bisa berbalas tenang, bentakan bisa berbuah senyum dan keluhan bisa menjadi semangat.

Ketika yang aku lihat dan aku rasakan adalah penjejalan atas kesedihannya, aku berkata bahwa kau hanya perlu merasa cukup.

Tapi ya begitu, susah.

Kau bilang, mungkin aku belum paham, hanya berteori. Lalu apa aku akan sepertimu juga? Menebarkan hal-hal negatif. Sama-sama marah. Sama-sama membentak. Sama-sama mengeluh. Sama-sama mengikat dunia.

Dan aku rasa, jika algoritmanya sama sepertimu, apa aku bisa bahagia?

Iklan

Ndak Peka

Kadang aku tidak peka pada hal-hal tertentu semisal membereskan apa yang seharusnya dibereskan, menyiapkan apa-apa yang harus disiapkan, dan semacamnya. Butuh trigger. Baca: perintah. 

Tentang masak juga. Sering bertatapan dengan kompor, wajan, ketel, telor, minyak goreng, dan kawan-kawan. Tapi ya hanya sekadar itu. Sekadar bertatapan. Namun ketika aku dan mereka bekerja sama, ahh.. outputnya ndak indah. Contohnya dadar ancur plus keasinan. Hasil lumayan hanya terjadi pada keluarga mie rebus (atau mie goreng). 

Ya, kebanyakan ngentry, keseringan pegang mouse. Sekalinya mouse diganti spatula, hasilnya uwow sekali. 

Heeey… Sedikit-sedikit aku belajar. Terus belajar.