Hari ini Hadiah

Pernah suatu pagi berangkat SMA (seperti biasa jalan kaki), di jalanan terlihat sepi. Hampir tidak ada anak sekolah lain yang sama berjalan sepertiku. Aku lupa, waktu itu aku kepagian atau kesiangan. Lalu, menghadap langit yang begitu membiru muda dan gumpalan awan putih, bahagianyaaa…. Dan sayup-sayup seseorang berkata, lihatlah langit biru muda, awan putih, matahari, angin, semuanya adalah hadiah untukmu hari ini karena kamu jadi anak baik. 

Pagi tadi, aku berjalan seperti biasa. Aku agak kesal karena suatu hal. Di jalan, aku melihat langit biru muda dan awan putih menggumpal. Aku jadi mengingat diriku dulu, yang berpikir, hari ini adalah hadiah dari Allah untukku. Sesimpel itu, agar aku bahagia. 

Huft… iya, ketika kesal ataupun marah, sebetulnya akan kembali padaku dalam bentuk sesal. Sesal yang menyesakkan. Yaaa, maafkan aku. 

Satu hal lagi, jika seseorang itu hari ini aku kesal (lagi) , ia akan berkata, loh jumat barokah kok jutek. 

Aku pun tambah kesal nantinya. 

Iklan

Sebentar 

Dingin. Beberapa hari ini aku merasakan Cirebon rasa Bandung. Dingin. 

Dan malam ini. Aku ingin pergi sebentar, dari rutinitas. Aku ingin mengacuhkan orang. Sebentar. 

Aku dan Makanan Ajaib 

Modeeel

Seseorang sering memberiku makanan. Kadang nasi rames. Kadang nasi lengko atau nasi goreng atau nasi padang. Membeli bakso atau mie ayam juga pernah. Ada lagi? Hm.. jajanan seblak, somay, pisang coklat, es kelapa muda, sampai jus alpukat juga sempat mendarat di depan mata. 

(Ada yang belum diabsen kah?) —Iya, ndak ada fotonya. Ndak kepikiran difoto. Jadi cuma singkong keju itu yang kebagian nongol di blog. Jadi model dia 😅—

Ya. Baginya, mungkin aku adalah perempuan yang suka makan. Seporsi nasi padang yang buanyak bisa habis tanpa sisa (padahal itu karena aku tidak suka menyisakan makanan. Kecuali memang perut tidak bisa benar-benar menampung). Dan menurutnya, aku bisa kesal karena kelaparan. 😲😲😌😌😌

Ah iyaa.. 

Pernah suatu hari aku betul lapar karena full mengajar. Baru sempat jajan ketika beres KBM. Jajannya roti coklat dan sosis sarebuan. Lalu kepergok seseorang tadi. 

“Lapar, Bu?” 

“Ngga. Cuma pengen jajan aja Pak,” 

“Ihh, kok sosis? Ngga sehat tahu,” katanya lalu merampas jajanan berbaju oren itu.

Si bapaknya meloyor pergi. Dan beberapa menit kemudian,  lagi-lagi ada nasi rames. 

Alhamdulillah. 

Pagi ini Hujan

Pagi ini hujan. Adem sekali. Sambil mendampingi anak-anak belajar mempersiapkan UKK, aku jadi ingat kata-kata seseorang. Kata-katanya yang membuat aku mengingat tentang dulu. 

Dulu 

Yang ketika lulus SMA, aku tidak mempedulikan kemana aku akan lanjut. Aku cukup berusaha lewat tes PTN. Lalu doaku, terserah Allah ingin aku dimana. Aku yakin, itu terbaik. 

Dulu

Yang ketika kuliah, aku tidak mempedulikan nilai di atas kertas. Aku cukup mengerjakan tugas dan ujian (diusahakan) dengan jujur. 

Dulu

Yang ketika lulus kuliah, aku hanya cukup melamar beberapa sekolah. Tidak menuntut harus kemana atau kemana. Ke sekolah favorit atau bukan. Aku hanya ingin mengajar.

Dulu

Yang ketika umur 25 tahun belum terlihat jodoh, aku hanya mengatakan padaNya bahwa aku sudah merindukan seseorang itu bahkan sebelum aku melihatnya. Lalu aku memohon hatiku dikuatkan untuk menunggu lagi. 

Dulu  

Yang ketika aku mulai menyukai laki-laki, aku memohon agar dijauhkan perasaan tadi. Diam-diam menjauh dan menjauh. Walaupun endingnya agak seperti roller coaster. Shocked. Unpredictable. Subhanallah. 

Sekarang. Aku merasa sudah jarang begitu. Menerima penerimaan dari-Nya, yang penting sudah do the best. Tawakkal. Jarang. Menjadi sering khawatir terhadap hal-hal yang tidak perlu. 
Allah Maha Pengatur. Yang punya skenario terbaik. Tidak ada keraguan sedikitpun. 

Semoga bisa lebih baik. Aamiin. 

Dan, for you Bro… terimakasih sudah mengingatkan. Kamu sudah dewasa diam-diam. Atau apa aku baru tahu bahwa kamu memang lebih dewasa. 

Sebagaimana

Sebagaimana aku tahu sebuah keinginan mampu membuat sebentuk hati terpaksa bekerja. 

Jangan ambil kesesakan jika memang terasa. Kau akan tersiksa bukan? 

Lalu kenapa kau tidak memutuskan untuk tersenyum pada Langit? 

Saling mendamaikan hati… 

Saling mengikhlaskan diri.. 

Karena kita sudah dewasa

Kita sama2 tahu, kita adalah seorang hamba yang berharap bisa pulang tanpa tersesat

Hari Ibu kali ini… 

​Hari Ibu kali ini, terlintas banyak hal yang mungkin akan berubah nantinya. 

Ibuku, perempuan yang mengatakan bahwa anak-anaknya baik dan cantik. Ibuku, perempuan yang selalu ramah kepada hampir setiap orang. Ibuku, ia cantik. Ibuku, ia yang menjelaskan padaku bahwa perempuan bisa kuat jika pun jauh dari keberadaan laki-laki.

Ibu sering berdebat denganku atas beberapa hal. Misalnya, tentang pakaianku atau tentang kucing tetangga. Ya paling tidak, ia setuju ketika aku mengatakan seseorang itu tampan. 

Ketika aku dan ibu pergi ke mall, bukan untuk pergi nonton atau makan di foodcourt-nya. Kami akan berhenti di supermarket dan lantai pakaian. Di supermarket, ibu akan belanja barang-barang yang harganya miring. Hihi. Lalu di lantai pakaian, ibu akan membelikan aku baju. Ibu tahu bahwa bajuku itu-itu saja padahal aku sudah kerja. 
Hari Ibu kali ini, terlintas banyak hal yang mungkin akan berubah nantinya. 

Sudah seperempat abad lebih hidup dengan ibu, tetapi aku merasa belum melakukan apapun. Saat rencana menikah datang, aku tambah merasa bahwa aku belum menjadi anak ibu yang baik. 
Ibu, maafkan aku… 

Ibu, tahu kah.. setiap salim dan cium setiap aku ingin berangkat kerja menandakan bahwa aku sangat sayang dan selalu membutuhkan ibu. 

Cirebon, 22 Desember 2017

Hidup lagi

Sepertinya, melepaskan itu mendamaikan

Sepertinya, menerima penerimaan pun melegakan

Karena takdir bukan memaksa sama

Tapi menerbangkan ke langit apa yang kau ingin dengan sangat

Tentu tak selalu menyenangkan

Bisa saja menyesakkan

Kabari setiap wajah yang kau temui

Bahwa hidup harus berjuang

Bahwa hidup harus semangat

Bahwa hidup harus tulus

Bahwa hidup harus hidup

Bila tak sejalan, tak apa

Menangis saja

Pada-Nya

Lalu bangun lagi

Hidup lagi