Alamat Harapan

“Hey hey, apa kamu tidak punya kerjaan selain nonton televisi, Er?”

Aku menengok Joni sembari nyengir kuda. Lalu melanjutkan perhatian pada layar televisi yang sempat teralihkan.

“Hah, apa-apaan itu?”

“Maaf, maaf. Ini loh Jon, ada lapas yang kebakaran lagi,” ucapku sedikit serius sambil tetap melototi televisi.

“Kemudian tahanan kabur. Selanjutnya dikerahkan petugas untuk mencari para tahanan. Beberapa tahanan kembali ke lapas setelah ketemu keluarganya, sebagian lagi berhasil ditangkap, sisanya masih belum ditangkap,” Joni menarik napas dalam-dalam. “Apa menariknya? Itu seperti skenario yang kita bisa tebak,”

Aku tertawa. Aku berpikir, apa yang dikatakan temanku itu benar juga. Dan seperti skenario juga ketika dalam sebulan, ada lapas yang kebakaran atau sebab lain yang menyebabkan para tahanan kabur. Ah, apa urusanku? Eh? Aku mengamati kalimat berita di layar televisi tersebut.

“Eh Jon, lokasi lapas itu deket-deket daerah sini!”

Ekspresi Joni biasa saja. “Kalau mereka berniat kabur, mereka ngga akan kabur ke daerah sini. Terlalu mudah dilacak. Tapi, mereka akan langsung pergi ke luar kota, ke luar negeri kalau perlu,” ucapnya sambil memainkan ponselnya.

Aku tertawa lagi. “Kamu yakin mereka sekaya itu? Mereka punya uang buat pergi ke luar negeri?”

Maybe,”

Aku mengernyitkan alis untuk kesekian kalinya ketika mendengarkan ia berbicara. Aku mematikan televisinya, melirik jam dinding yang menunjukkan pukul dua siang, lalu bertampang lemas ketika menyadari toko ini sangat sepi sekali. Jika ayah dan ibu tidak pergi ke rumah nenek, aku mungkin sedang berbaring di kamar, mendengarkan musik, Facebook-an, Twitter-an, atau mengerjakan skripsi. Mungkin.

“Assalamualaikum,”

Spontan aku menengok sumber suara tersebut. “Waalaikumsalam,”

Joni memberi tanda, ada pembeli. 

“Beli apa Pak?” tanyaku ramah. Aku melihatnya dengan biasa, tapi otakku langsung mengeluarkan output bahwa bapak itu sangat tampan. Aku tersenyum. Lama-lama senyumku memudar setelah ia tidak menjawab apapun. Ia terlihat kebingungan dan aku menjadi sedikit kurang nyaman ketika tatapannya mengelilingi sudut tokoku. Kemudian ia melihat batas-batas sekitarnya dengan serius.

“Bapak mau beli apa?” tanyaku lagi.

“Begini saya sedang mencari kontrakan di daerah sini. Apa kamu tahu?” tanyanya sambil membetulkan letak ransel kumuhnya.

Aku terdiam.

“Oh…. Memang Bapak darimana?”

“Saya perantauan. Saya sedang mencari seseorang. Saudara. Dulu dia tinggal di sekitar sini, tapi lokasinya sangat berbeda dengan dulu. Jadi lebih baik saya cari kontrakan,”

Aku mengangguk singkat. Aku memperhatikan lagi. Air wajahnya yang datar, pakaian yang sedikit tidak pas untuk ukuran badannya, membuat aku ragu. Sebenarnya sangat mudah mendapatkan jawaban untuk pertanyaannya tentang kontrakan. Tapi entahlah, apa aku harus memberikan jawaban itu dengan hanya menjamin bahwa ia seorang perantauan dan sedang mencari seseorang? Aku teringat berita televisi, bagaimana kalau ia adalah seorang tahanan yang lepas?

“Bapak butuh tempat tinggal kan? Aku tahu tempatnya,” ucap Joni tiba-tiba.

Aku menatap ke arahnya, memberikan isyarat Heeeey, Jon! Jangaan!. Ya. Bisa aku tebak, ia tidak memahami isyaratku atau pura-pura tidak memahaminya. Yang aku lihat, mereka berdua pergi dari jangkauanku. Aku tidak bisa menerka dengan mudah, siapa sebenarnya laki-laki itu.

“Eh! bapak itu tinggal di rumah kamu?? Serius? Kok bisa?”

“Kontrakan Pa Haji penuh, Er. Lagian ternyata bapak itu ngga punya uang,”

Pusing kepalaku bertambah jadi. Hah, anak ini.

“Jon, Jon, Jon, kamu kan ngga kenal bapak itu jadi jangan,”

“Er, Er, namanya Pak Ihsan. Besok pagi aku mau bantu cari saudaranya itu. Dan jangan cerewet, ibu aku aja ngga secerewet kamu. Dah,” Joni menutup teleponnya.

Malam itu benar-benar membuatku geram.

^^^

Keesokan harinya, aku akhirnya memilih untuk mengikuti mereka berdua, Joni dan bapak itu, Pak Ihsan. Dalam perjalanan, aku tidak berhenti memperhatikan Pak Ihsan. Kali ini, bukan karena ia tampan tetapi ada hal yang membuatku merasa was-was. Ia selalu membawa kertas berisi alamat orang yang dicarinya. Ya. Kertas itu berisi alamat desa ini berpuluh-puluh tahun yang lalu. Seiring perubahan keadaan desa, nomor rumah, pengaturan RT, RW, bahkan blok, alamat yang dituju Pak Ihsan seperti hanya ada dalam sejarah.

“Pak Ihsan, nama orang yang bapak cari itu siapa? Lebih baik kita tanya langsung sama penduduk sini,” tanyaku.

Pak Ihsan terdiam sambil mengamati alamat rumah di secarik kertas lusuh itu. 

“Sampai kapan juga, alamat itu ngga akan pernah ketemu. Alamat itu mungkin ada sewaktu jaman Belanda, tapi sekarang bukan jaman penjajahan lagi,” paparku sedikit kesal.

Pak Ihsan menggeleng tanpa senyum. Ia kembali berjalan. Aku menghembuskan napas kuat-kuat. Sesekali aku melirik Joni yang masih bisa bersikap santai. Ia menurut saja pada bapak itu.

“Hmm Pak, kalau begitu lebih baik kita ke kantor desa. Mungkin mereka punya salinan alamat yang dulu. Jadi kita bisa tahu alamat sekarang dari orang yang Bapak cari,” ungkapku girang.

“Terlalu beresiko Nak,” jawabnya pelan kemudian Pak Ihsan berjalan lagi sambil memandangi rumah orang-orang satu per satu.

Hah? Aku tidak percaya, bapak itu menolak saranku lagi. Melihatku seperti orang yang malang, Joni tertawa.

“Er, kita turuti aja kemauan Pak Ihsan,” kata Joni kemudian.

“Aku heran, kenapa bapak itu mencari cara yang susah, yang tersusah,”

Yeah. Selalu ada alasan, tapi alasan itu kadang bersifat rahasia,”

“Hmm rahasia. Oke sekarang, kenapa kita harus mengekori Pak Ihsan seperti ini? Dia bukan siapa-siapa kita kan?”

“Aku punya alasan sendiri. Dan kamu? Yah, aku ngga butuh tahu alasan kamu,” jawabnya sambil tersenyum kecil.

Aku tersenyum juga. Ya. Aku tidak berharap mengungkapkan alasanku mengikutinya. Aku hanya ingin membuktikan kewaspadaanku kepada Pak Ihsan. 

“Jambreeeeet!”

Suara darimana? Eh, jambret? Aku cepat-cepat menengok ke belakang. Aku melotot. Seseorang bertopeng hitam berlari ke arahku. Di belakangnya banyak warga berlari mengejarnya sambil berteriak. “Jambreeeet! Halangi orang ituuuuu!”

Tubuhku tiba-tiba bergetar. Orang-orang itu menginginkanku menghentikan penjambret. 

“Ngga bisa!” seruku kemudian sengaja duduk terjatuh sambil menyembunyikan wajahku. 

Aku masih menelungkupkan wajahku. Airmataku jatuh membasahi jilbab yang baru pertama kali aku pakai. Huh, aku tidak peduli. Bahkan aku tidak tahu sudah selama apa ketika mendengar suara pukulan kepalan tangan yang kuat, erangan seseorang yang kesakitan,…. Orang-orang meneriakan, Pukul! Hajar! Dan suara seseorang saja yang berkata, “Hentikan Pak Ihsan!” 

Pak Ihsan?Aku mencoba tenang. Aku membuka mata. Dan betapa kagetnya ketika melihat Joni yang berusaha melerai Pak Ihsan. Ya. Orang yang tengah menghajar itu adalah Pak Ihsan. Ia sedang menghajar penjambret yang terlihat tidak melawan sedikitpun. Lalu mereka? Mereka, orang-orang yang mengejar penjambret, terlalu senang dengan keadaan di hadapannya.

Aku? Harus bagaimana?

“Hentikan Pak!!! Nanti Bapak bisa di penjaraaaaa!!” pekik Joni.

Aneh. Pekikan temanku itu membuat dadaku sesak. Airmataku mengalir lagi.

“Bapak mau masuk penjara sebelum bertemu dengan orang yang Bapak cari?!!” seru Joni lagi.

Pak Ihsan mulai menghentikan pukulannya. Ia mengerang-erang meminta maaf karena telah menghajar penjambret habis-habisan. Lalu, orang-orang tersebut membawa penjambret ke kantor polisi, meninggalkan aku, Joni dan Pak Ihsan.

“Er, kamu ngga apa-apa?” tanya Joni Panik.

Aku mengangguk singkat. Melihat jawabanku, Joni kembali mendekati Pak Ihsan, menenangkanya lagi. Aku lemas. Pemandangan apa yang aku lihat tadi? Benar-benar tidak pernah aku berpikir kejadian tersebut, selintas pun.

Azan dhuhur berkumandang. Kita bertiga memutuskan untuk mencari masjid terdekat. Aku duduk di teras masjid, menunggu Joni dan Pak Ihsan yang sedang menunaikan sholat. Angin menerpa wajahku. Segar sekali.

“Er, mau minum? Mau makan?” tanya Joni yang tiba-tiba menghampiriku.

Aku tersenyum ringan. Aku memandangi sebuah warung kopi di depan masjid ini. Mungkin ada minuman dingin yang membuatku…. Eh? Posisinya?

“Jon, posisi warung di depan seperti posisi toko aku ya? Seperti deja vu,”

Aku melirik Joni yang sedikit terkejut. Joni pun tampak mengamati sekelilingnya.

“Mungkin ini alamatnya Er,” ungkapnya senang.

Aku meninggikan alis. “Maksudnya?”

“Di depan toko kamu ada mushola kecil. Di depan warung itu juga ada masjid ini. Pertama kali Pak Ihsan ke toko kamu mungkin karena dia ingat posisi seperti alamatnya yang dulu. Seperti ini. Pak Ihsan berpikir kalau toko kamu adalah warung itu,” jelasnya sambil menunjuk warung yang sederhana.

Segera, aku dan Joni memberi tahu Pak Ihsan. Sebentar saja, raut wajahnya berubah. Ia cepat-cepat berlari menuju warung itu. Aku melakukan apa yang aku lakukan sebelumnya, mengekori Pak Ihsan. Namun, tidak kali ini. Joni mencegahku.

“Kita nunggu disini aja,”

Aku hanya mengiyakan perintah Joni, yang tidak aku ketahui alasannya. Aku malas bertanya kenapa ia mencegahku. Kemungkinan besar, ia tidak akan memberikan alasannya. Huh, apapun alasannya, sebenarnya aku ingin melanjutkan pengetahuanku tentang pertemuan itu. Dari sini, samar-samar, aku hanya melihat Pak Ihsan bertemu dengan seorang wanita dengan dua orang anak. Sepertinya, anaknya laki-laki semua. Apa mereka adalah keluarga Pak Ihsan?

Belasan menit kemudian, Pak Ihsan kembali menghampiri aku dan Joni. Aku segera membangunkan Joni yang sedang tertidur.

“Saya berterima kasih kepada kalian berdua. Saya sudah menemukan orang-orang yang ingin saya temui,” ucap Pak Ihsan.

Aku mengangguk sambil tersenyum. 

“Benar-benar waktu yang singkat. Bapak yakin mau kembali ke sana? Ke alamat yang satunya lagi?” tanya Joni.

Pertanyaan Joni membuat Pak Ihsan terdiam sejenak, begitu pun aku yang tidak mengerti.

“Mau bagaimana lagi? Tidak ada tempat lain. Kadang terbilang beruntung ketika keluarga saya masih bisa tersenyum bahagia ketika melihat saya Nak,”

“Ya, Bapak harus mengingat senyum mereka hari ini. Bersabarlah, dimanapun. Bapak harus bahagia, dimanapun. Kelak, Bapak akan kembali ke rumah itu. Itu adalah alamat harapan Bapak,” tutur Joni lagi.

Pak Ihsan mengangguk. Ketampanannya kini bertambah seiring dengan senyum yang mengembang. Kemudian ia melihatku.

“Namamu Eri? Maafkan saya karena kau sempat melihat saya memukul penjambret tadi. Mungkin itu kejadian yang tidak enak untukmu, Nak. Maaf. Saya minta maaf pada kalian,”

“Iya, sama-sama. Aku juga minta maaf Pak,” ucapku.

Itulah akhir dari pertemuanku dengan Pak Ihsan. Ya. Tentu saja, masih banyak tanda tanya di kepalaku. Sangat banyak. Tapi, siapa yang mau menjawabnya. Aku melirik seseorang yang masih setia berjalan di sampingku.

“Kalau keluarga Pak Ihsan ada disini? Kenapa Pak Ihsan pergi ke tempat yang lain, Jon?” tanyaku nekat.

Joni hanya tersenyum singkat. Aku juga mengekorinya untuk tersenyum. Aku tidak akan menyalahkan siapapun untuk alasan yang tidak aku dapatkan. Walaupun aku kesal. Aku menarik napas dalam-dalam. Bersabarlah, dimanapun. Bapak harus bahagia, dimanapun. Kelak, Bapak akan kembali ke rumah itu. Itu adalah alamat harapan Bapak. Kata-kata itu, bermakna.

“Pak Ihsan itu bagian kecil dari skenario kebakaran lapas, Er. Pertama kali dia datang ke toko, dengan pakaian yang mungkin ia pinjam sehingga ngga pas dengannya, tapak borgol seperti sudah bertahun-tahun di kedua lengannya, aku mulai berpikir bahwa dia punya maksud yang unik.

“Malamnya aku melihat seragam tahanan lapas di dalam ransel Pak Ihsan. Lalu kamu menelepon Er,” ucap Joni.

Aku terperangah. Yah, mau bagaimana lagi? Ini kenyataan yang menurutku, tidak masuk akal.

“Oke. Kamu sebegitu percaya pada Pak Ihsan padahal kamu tahu dia siapa. Beruntung dia ngga berniat kabur Jon,”

“Itu alasannya aku mengekori Pak Ihsan,” Joni tertawa. “Keluarga itu bisa jadi magnet untuk tetap tinggal. Apalagi tempat bandingannya, penjara. Jadi aku sedikit khawatir kalau Pak Ihsan ngga mau kembali setelah ketemu keluarganya,”

Aku mengangguk. Aku kembali berpikir ke belakang. Mungkin itulah alasannya kenapa Pak Ihsan ingin menemukan alamatnya sendiri. Ia tidak ingin menanyakan pada orang lain karena ia tidak ingin dikenali. Ia tidak ingin melibatkan nama keluarganya yang bersih. Cukup dirinya yang tercoreng sebagai tahanan. 

Begitu juga ketika dalam pemukulan penjambret tadi, Pak Ihsan melemah ketika Joni menenangkannya dengan menyebutkan kata penjara. Apa Pak Ihsan langsung membayangkan dirinya masuk ke dalam penjara? Maybe.

Aku terdiam sejenak. Begitu memilukan.

Joni yang tengah berjalan tiba-tiba berhenti.

“Kayaknya kita butuh alamat harapan juga Er,”

“Eh?”

“Kita nyasar,”

Eh? Haha.

^^^

Iklan

Rantai

Hey kau, perbuatanmu membuat kau dan aku menjadi saling berhubungan. Ah, sebenarnya aku dapat dengan mudah menemukan kau-kau yang lebih banyak lagi karena perbuatan yang sama. Tapi ada hal-hal yang membuat ikatanku denganmu lebih kuat daripada yang lainnya. Apa kau senang dengan ikatan ini?

Hey kau, aku tidak mengakui bahwa aku adalah orang yang baik. Dan mungkin aku dan kau sama-sama bukan orang yang baik. Tapi aku hanya berpikir, aku yang bukan orang baik pun tidak sampai terpikir melakukan perbuatan yang kau lakukan. Tapi, karenamu, aku sempat berpikir hal yang baru. Kau tahu tidak? Baru saja pikiran setan melintas dalam pikiranku, aku bisa meneruskan rantai itu padamu dengan mudah.

“Ada gerakan, Fan?”

Aku menoleh pada rekanku yang baru datang.

“Belum ada. Tapi aku yakin, dia ada di dalam,”

Rekanku menepuk bahuku dengan tegas.

“Baiklah, tetap bertahan seperti ini. Kita tunggu sampai yang lain datang. Jangan gegabah, dia adalah orang yang cukup sadis,”

Aku hanya tersenyum kaku.

Hey kau, kau ada di dalam rumah itu kan? Rumah kecil bercat putih yang penuh dengan aura kejahatanmu. Aku menghela napas. Kemudian aku melihat gambar sketsa wajah yang ada di genggamanku sedari tadi. Napasku bertambah berat ketika melihat gambar sketsa wajahmu diwarnai dengan bercak darah. Seandainya…. Seandainya aku tidak memiliki ketenangan, aku mungkin bisa langsung membalasmu. Tapi bagaimana perasaanku jika aku bertemu wajahmu langsung, tanpa gambar ini? Apa aku akan kehilangan ketenanganku? Apa yang akan aku lakukan?

Sungguh…. Sungguh aku ingin segera menyudahi misi ini. Sungguh aku ingin menyerah. Aku memang seorang laki-laki. Tapi sungguh aku ingin menangis. Aku ingin menangis di sampingnya. Aku ingin menyerah di sampingnya. Tapi tidak disini. Tidak di depanmu! Aku akan mengakhiri ini segera!

“Aah, lamanya….”

Rekanku tertawa ringan.

“Tunggu sa-….”

“Oke, aku akan bertamu ke rumahnya,” jawabku memotong kalimatnya. Lalu aku merapikan pakaian penyamaranku.

“FAN, JANGAN GEGABAH!” bentaknya sambil menahan lengan kananku.

Aku menatapnya datar. Sebaliknya orang-orang yang ada di warung kecil ini terlihat kebingungan namun beberapa dari mereka menunjukkan tatapan kekhawatirannya terhadap kami. Aku menunjukkan isyarat bahwa kami berdua sedang berada di tempat umum. Rekanku pun mulai mengendurkan cengkeramannya terhadapku.

“Tapi Fan, tetaplah disini sampai….”

“Aku hanya bertamu ke rumah target,” aku tersenyum bermaksud menenangkannya. “Kalau yang lain sudah datang, langsung saja masuk ke dalam. Jangan menunggu sampai aku terbunuh. Maaf,” kataku. Aku pun mulai berjalan.

Rekanku akhirnya membiarkanku pergi. Aku tahu, sudah berapa kali aku telah membuat orang-orang yang aku panggil rekan itu khawatir. Ya, termasuk rekanku yang tadi. Rekan-rekanku harus setia menahanku agar aku tidak gegabah dan nekat. Tapi sudah berapa kali mereka gagal. Aku tetap saja gegabah dan nekat. Aah, bukan seperti itu juga. Aku hanya lelah menunggu. Walaupun begitu, aku masih selamat sampai misi ini, kan? 

Terlebih lagi dalam misi ini, aku ingin…. Aku berhenti sejenak. Wajah wanita itu tiba-tiba muncul dalam bayanganku. Kau tahu wanita yang aku maksud? Aku yakin kau akan mengetahuinya walaupun kau tidak tahu namanya. Namanya Gina. Aku juga yakin kau tidak akan mengetahui bahwa Gina sangat pandai melukis. Dan Gina-lah yang melukis sketsa wajahmu. Apa kau terkejut?

“Fan, apa aku harus selalu membawa sekaranjang es batu seperti ini, setelah kamu selesaikan misi?”

Waktu itu aku tidak ingat, apa aku tersenyum atau tidak mendengar pertanyaannya. Gina memang selalu bertanya pertanyaan yang sejenis ketika aku pulang menyelesaikan misi dengan luka lebam dimana-mana. Namun ia tetap meredakan luka-lukaku dengan handuk kecil yang sudah dicelup ke air es yang masih menyisakan gelondongan es batu.

“Berhentilah nekat, Fan. Sudah berapa orang rekanmu memintaku mengingatkanmu, jangan seperti itu. Tapi aku sia-sia saja,”

“Aku ngga akan mati karena misi-misi itu,”

Gina memukul kecil pipiku. Aku hanya terdiam dan membiarkannya. Bukan karena pukulannya itu tidak berasa apa-apa, tapi karena aku tahu bahwa saat itu ia marah.

“Ini bukan soal mati atau ngga. Kematian itu ketentuan Allah, bisa datang kapan saja, bukan hanya di saat kamu sedang menjalankan misi. Berhenti nekat, itu supaya kamu lebih berhati-hati dalam pekerjaan. Supaya kamu ngga membahayakan rekanmu yang lain. Supaya kamu ngga mengacaukan strategi tim.

“Huh, seandainya pikiran kamu bisa seadem air es ini. Jadi senekat apapun kamu, kamu masih bisa berpikir jernih. Kamu bisa mempertimbangkan langkah sebelum kamu bener-bener terluka,”

Aku kembali berjalan. Wajah Gina yang terbayang berangsur-angsur menghilang. Tidak ingin aku membayangkannya. Aku ingin melihatnya secara langsung. Bukan bayangannya. Namun, kata-katanya menyibak tabir kenyataan yang harus aku hadapi.

Aku mengetuk pintu kayunya. Tiga ketukan pertama tidak ada jawaban. Aku mengetuknya lagi. Lagi dan lagi. Aku sangat berharap kau akan melayani ketukan terakhirku tadi. Berhasil. Terdengar olehku suara putaran kunci dan engsel pintu yang bergerak. Dan kau pun muncul di hadapan mataku. Benar-benar wajah yang sama dengan gambar sketsa wajah itu. Mau tidak mau aku harus berterima kasih kepada pelukisnya karena memudahkan kami dalam misi ini.

“Permisi Pak, saya petugas sensus penduduk desa ini. Saya dengar Bapak baru pulang dari perantauan jadi belum sempat mengisi data untuk sensus penduduk,”

Kau terdiam sejenak memperhatikanku.

“Hah, kau terlalu muda untuk bekerja menjadi petugas sensus,” ucapmu sambil tertawa sambil menyilakanku masuk.

Aku langsung mengeluarkan dua lembar form yang harus kau isi. Aku melihat wajah tidak bersalahmu tersenyum dan tertawa. Dan baru kali ini, badan dan pikiranku kaku. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan kali ini. Aku tidak tahu.

“Baiklah Petugas Sensus, aku sudah mengisinya,”

Aku mengambil form yang sudah diisi. Mataku terfokus pada suatu kata. Aku pun tersenyum spontan.

“Bapak lahir di hari selasa? Istriku juga lahir di hari itu,” ujarku.

Aku melihatmu tertawa puas. 

“Sungguh kebetulan! Hari selasa adalah hari keberuntunganku. Apa itu hari keberuntugan istrimu juga?”

“Dia bukan tipe orang yang memperhatikan hal seperti itu,”

Baiklah, sekarang apa lagi? Apa lagi yang harus aku lakukan? Dalam misi-misi sebelumnya, aku menyerbu sarang perjudian dan langsung menghajarnya satu per satu. Selain itu, aku juga pernah menerobos kebakaran untuk menyelamatkan pelaku yang ingin bunuh diri di dalamnya. Lalu aku pernah berkelahi di atas truk yang melaju. Dan yang lainnya, adalah kenekatan yang bermodalkan fisik. Saat ini, bagaimana aku menerapkannya?

Ba-gai-ma-na?

“Gin, apa itu yang kamu pakai?”

“Ini namanya jil-bab. Sekarang aku sudah bergabung dengan ibu-ibu pengajian. Katanya setiap wanita akan terlihat sangat cantik dengan ini,”

Waktu itu…. Waktu itu aku berkomentar apa? 

“Jangan melakukan hal yang aneh-aneh Gin,”

“Itu bukan hal yang aneh, tapi hal yang menentramkan hati. Hari selasa kita datang pengajian berdua ya, Fan?”

Aku…. Aku menggelengkan kepalaku. “Banyak tugas di kantor. Aku juga ngga bisa mengantarmu,”

“Ya sudah, aku akan ke sana sendiri naik bis,”

Kemudian hari selasa yang lalu pun datang. Dengan sebuah berkas kasus yang datang menghampiri mejaku. Seorang penjarah bis yang selalu beraksi setiap hari selasa. Tidak tanggung-tanggung, ia akan melukai siapapun yang menghalanginya. Perasaanku tidak seperti biasanya pada hari itu. Spontan aku menghubungkan penjarah bis itu dan Gina yang akan pergi ke pengajian. Aku belum pernah khawatir pada seseorang sampai seperti itu. Lalu, apa Gina dan rekan-rekanku merasakan hal yang sama sepertiku, perasaan khawatir pada orang yang ia sayangi?

Dan nampaknya hari itu aku merenung terlalu lama. Beberapa jam kemudian, kantor polisi tempatku bekerja heboh karena kasus penjarahan bis terjadi lagi. Korbannya seorang wanita muda yang ditusuk pisau oleh si pelaku. Rekan-rekan kerjaku langsung melihat ke arahku dengan tatapan menyedihkan. Kali ini mereka tidak menenangkanku. Mereka membiarkanku. Bukan karena mereka yakin akan gagal menenangkanku, tapi mereka memahami arti airmataku. Mereka tahu bahwa aku menangis karena korban itu adalah Gina, istriku.

Aku berlari, berlari dan berlari sekencang-kencangnya di rumah sakit. Melihat Gina terbaring lemah adalah rasanya lebih menyakitkan daripada menderita banyak luka lebam di tubuhku sendiri. Pihak operasi sudah mengoperasi Gina namun ia kehilangan banyak darah. Aku yang memiliki golongan darah yang sama langsung mendonorkan darahku.

“Fan, a-ku ngga a-apa a-pa,”

Itu adalah kalimat pertamanya setelah melihat wajahku yang penuh dengan emosi.

“Tang-kap dia. Biarkan a-ku ja-di kor-ban terak-hir. Tapi itu bu-kan misi ba-las den-dam kare-na a-ku, Fan. Ja-di ja-ngan apa-apakan dia,” ucapnya terpotong-potong.

Aku terdiam. Lalu Gina berbicara lagi.

“Putuskan rantai keja-hatannya. Ja-ngan ka-mu lanjut-kan rantai-nya. Ja-ngan bu-nuh dia, ja-ngan ha-bisi dia,” 

Aku menatapnya tajam. Namun tetesan airmatanya membuat tatapanku meredup tumpul. Aku berpikir, kenapa orang yang aku sayangi berkata seperti itu. Ia memang cukup mengenal sisi temperamen dalam diriku. Tapi bukan itu yang ia takutkan. Ia tidak takut padaku. Dan aku menjadi lemah pada wanita itu. Tidak. Bukan pada Gina. Ada hal-hal yang membuat aku lebih lemah lagi.

“Kita sama-sama ber-juang, Fan. Ka-mu ba-wa dia ke kan-tor poli-si. A-ku ber-juang mengha-dapi sakit ini. Se-te-lah itu…. Skenario i-ni… Ter-se-rah-” Airmata Gina bertambah deras. “…Allah itu Ma-ha A-dil, Maha Pengam-pun, Maha Segala-galanya. Penye-rahan to-tal sete-lah ki-ta berusa-ha, itu yang a-kan kita la-kukan Fan,”

Saat itu aku benar-benar tidak dapat menahan tangisku. Ada harapan baru yang tersirat pada kalimat — kalimatnya.

“Aaaah, aku tidak bisa berpura-pura lagi!” seruku tiba-tiba.

“Siapa kau?”

“Polisi,”

Ya, dan kau? Tertawa.

“Hahahaha, sudah kuduga! Aku sudah pernah mengisi formulir itu bulan lalu,” ucapmu santai sambil mengambil sebilah pisau lipat yang menurutku cukup tajam. 

Aku mengangguk singkat. 

Langsung. Aku tidak ragu-ragu menyerangmu dengan tendangan. Namun tampaknya kau cukup sigap untuk menghalau tendanganku. Aku tersenyum puas karena sudah lama tidak berkelahi seperti ini. Kau menodongkan pisau ke depan mataku. Namun aku dengan mudah menarik lenganmu dan ku banting sampai ke lantai. Tapi kau tidak juga menyerah. Bahkan dalam posisi seperti itu, kau mampu membuat gerakanku sia-sia. Sampai akhirnya hanya beberapa inci saja ujung pisaumu siap dengan mudah bersentuhan dengan leherku. Aku tidak bergerak. 

Dalam keadaan seperti ini, entah sebutan apa yang aku gunakan untuk diriku sendiri. Aku benar-benar gegabah dan nekat, namun tidak mempunyai pertimbangan yang jernih. Emosiku cepat menaik. Mungkin disinilah gunanya tim, aku bertindak sebagai penyerang karena aku jago berkelahi. Aah, tidak juga. Ini buktinya, aku tidak bergerak. Menanti kau menggorok leherku.

Dalam keadaan seperti ini, mungkin aku akan mati. Aku mengingat Gina yang baru-baru ini rajin pergi ke pengajian. Aku juga beberapa kali melihatnya sholat dan mengaji. Itu adalah hal-hal yang sering aku lakukan sewaktu kecil. Sayup-sayup aku mendengar suara almarhum ayah bahwa seorang laki-laki adalah imam bagi keluarganya. Maka, imam seperti apa aku ini? Aku…aku melupakan semua itu. Aku melupakannya seiring dengan rumah tanggaku yang indah, dan pekerjaanku yang bagus. Tapi justru itu, aku sangat bodoh. Kebodohan yang amat sangat keterlaluan, melupakan-Nya.

“INI POLISI !” seru seseorang dengan lantang sembari mendobrak pintu.

Kau sedikit tersenyum.

“Sepertinya kalian ingin anak ini mati ya!” tantangmu pada rekan-rekanku yang tengah menodongkan pisau ke arahmu. Rekan-rekanku terdiam tidak bergerak sama terpojoknya sepertiku.

“Hey, istriku memintaku untuk memutuskan rantai kejahatanmu,” ucapku pelan.

“Apa?”

Aku meninju perutnya dengan sangat kuat. Ia pun terpental sampai beberapa meter hingga menabrak dinding. Rekanku cepat-cepat meringkus kedua tangan dan memborgolnya.

“IRFAAAAAN!!!” teriak seorang rekanku.

Aku hanya tertawa kecil.

“Maaf, maaf,” kataku.

Akhirnya rantai kejahatannya terputus. Tapi ada satu rantai yang justru ingin aku sambungkan lagi. Itu adalah rantaiku dengan-Mu. Sudah berapa kali Kau selalu menyelamatkanku dari misi berbahaya. Kau pun menyelamatkan Gina dari peristiwa hari selasa. Tentunya itu adalah kesempatan dari-Mu. Kesempatanku untuk menggenggam tangan Gina dalam membina rumah tangga atas ridho-Mu. Dan juga kesempatanku merangkul rekan-rekanku untuk menjalani misi-misi selanjutnya atas izin-Mu.

***

Z e n

“Ron, nilai ulanganmu jelek lagi ya?”

“Apa urusanmu?”

Beberapa anak berseragam putih abu itu tertawa. “Jangan sok suci! Itu akibatnya kamu mengerjakan ulangan sendiri!”

Zen melihat kejadian itu. Ia terdiam.

Terkadang, ada kalanya untuk melakukan, membantah, atau menolak sesuatu itu membutuhkan keberanian yang luar biasa. Bahkan jika pun sesuatu itu adalah persoalan yang jelas-jelas benar dan ada dalilnya, ada yang masih tetap membutuhkannya. Ah, tapi memang tidak semua orang membutuhkan keberanian karena beberapa orang mendapatkannya dengan mudah. Dan sayangnya, ia, termasuk orang yang belum mendapatkannya.

“Pak Zen, tolong salin data ini ya? Jangan lupa, ubah nilai siswa yang kurang dari KKM menjadi nilai KKM. Sebentar lagi akan diadakan akreditasi,”

“Data ini…. Maksud saya, Bapak sudah memberi remedial pada anak-anak?”

“Mana sempat, Pak? Saya sibuk. Terima kasih ya,”

Helaan napas berat selalu keluar dari hari-harinya. Sesekali ia melihat langit, sungguh begitu biru dan bersih. Lalu ia bertanya, kenapa dunia tidak seperti itu juga? Kenapa dunia banyak berbohong, memanipulasi, mengambil hak orang lain, dan melalaikan kewajiban? Awalnya ia tidak peduli soal itu, soal-soal seperti kebijaksanaan, tapi lama-lama ia peduli.

Lama Zen terdiam, ia pun tersenyum kaku. Senyum itu sebenarnya adalah tanda ketidakberdayaannya. Beberapa menit kemudian goresan tinta penanya tiba-tiba berhenti. Ia mengingat seseorang yang dulu pernah bersamanya, berada di posisinya seperti sekarang.

“Heh Nar, kamu dimarahin Pak Hatta lagi?”

“Iya,”

“Alasannya?”

“Aku nyantumin waktu pembelajaran di RPP kelas X, 70 menit. Bapaknya minta aku ganti jadi 90 menit. Jelas lah aku nolak. Jadwal kelas X kan di hari jumat, nah di sekolah ini hari jumat beda sama hari yang lain, satu jamnya dikurangi sepuluh menit. So, dua jam pelajaran bukan 90 menit, tapi cuma 70 menit,”

Waktu itu Zen hanya mengangguk saja di depan Binar. Dalam Program Pelatihan Lapangan dari kampusnya yang berlatar belakang keguruan, Zen hanya menginginkan situasi yang kompak bersama rekannya itu. Ya apapun itu, sebenarnya ia sedikit tersiksa dengan idealismenya.

“Ini namanya manipulasi,” celetuk Binar pada lain hari.

Zen berhenti menulis dan meliriknya. Tak lupa ia menarik napas panjang karena tidak henti-hentinya Binar menatap tajam beberapa lembar kertas nilai yang ada di hadapan Zen.

“Ini perintah,” sambung Zen.

“Iya, perintah yang salah,”

Zen kembali menulis.

“Nilai-nilai ini di bawah KKM dan gurunya nyuruh kita ngubah nilai ini jadi nilai KKM. Ini salah, Zen. Kasihan anak-anak ini, ketika mereka ngga bisa mencapai nilai minimal, berarti mereka masih butuh pembelajaran lagi. Nilai yang besar itu ngga akan menyelamatkan anak-anak, sia-sia, toh nyatanya mereka tetep ngga ngerti ke pelajaran,”

Zen tersenyum.

“Kalau nilai yang besar sia-sia, berarti ngga apa-apa kan kalau nilai-nilai ini aku ubah? Seperti kata kamu, sia-sia. Dan anak-anak itu bersekolah, karena nilai. Orang tua mereka juga pasti senang anak-anaknya punya nilai bagus. Orang tua  mereka ngga akan nanya, kamu dapat ilmu apa dari sekolah,”

Kini Binar terdiam. Dan lawan bicaranya sedikit lega karena dapat membuatnya bungkam. 

“Hmm, dan kita disini, karena nilai juga kan? Itu jelas terlihat,” Binar berdiri sambil merapikan ranselnya. “Aku pulang,”

“Mau aku anter?”

Binar menggeleng singkat. “Bukan muhrim,”

Ketika itu, Zen tahu bahwa Binar mungkin sedikit marah kepadanya. Hal seperti ini sudah beberapa kali terjadi. Laki-laki bergolongan darah A sepertinya sepertinya memang tidak cocok dengan golongan darah B sejati seperti Binar.  Zen tidak suka sifat idealisnya dan bicaranya yang terlalu jujur jika bertemu dengan sesuatu yang tidak sepaham. Binar juga selalu santai dalam menghadapi masalah dan tugas. Deadliner.

Kata yang terlintas dari hati Zen sepertinya manjur untuk dijadikan sebagai doa. Sejak pembicaraan dengan Binar waktu itu, ia seperti dijauhkan darinya. Ia jarang bertemu di sekolah maupun di kampus. Ia pun selalu tidak berhasil menghubunginya. Meneleponnya selalu mendapatkan jawaban mesin seperti, “Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Silakan….”. SMS ratusan kali pun tidak pernah mendapatkan balasan, mungkin tidak pernah dibacanya atau diacuhkannya. Facebook atau Twitter sama nihilnya. Aneh. Seharusnya Zen merasa hidupnya damai karena tidak perlu mendengar ocehan Binar atau diajak berdebat secara tidak langsung. Entahlah, ia membenci pengakuan ini, tapi ia merasa kehilangan Si Darah B-nya.

“Kerjaan kamu bagus, Zen. Oh, kenapa sekarang Binar jarang ke sekolah? Bilang sama dia, yang akan memberi kalian nilai itu ya dari sekolah. Kalau dia masih membangkang seperti itu, apa mau ngulang semester depan?”

“Nanti saya beritahu Binar Pak,”

Zen tersenyum ringan.

Beberapa hari setelah itu, banyak orang-orang di sekolah yang membahas Binar. Rata-rata dari mereka tidak menyukai idealisme Binar. Apalagi ketika Binar menolak perintah seorang guru untuk memanipulasi data nilai. Dan terlihat sok benar ketika Binar mulai memahamkan pada para siswa untuk semangat belajar, bukan membeli nilai. Sementara Binar? Benar-benar ia tidak mengindahkan apapun dan siapapun. Sama sekali tidak peduli.

“Sebentar lagi ujian PPL Nar,” kata Zen ketika bertemu Binar di kampus.

Binar hanya tersenyum singkat.

“Dicari Pak Hatta,” kata Zen lagi.

“Iya,”

“Aku bener-bener ngga tahu bagaimana menghadapi kamu. Kamu tahu kan gosip di sekolah, ada mahasiswa magang yang sok idealis, sok bener, sok suci, atau apalah namanya. Dia ngga mau berbaur dengan yang lain, antisosial, introvert, hanya datang karena jadwal ngajar lalu pergi lagi,”

Binar mengangguk.

“Nah kamu jangan seperti itu dong, Nar. Jangan sampai kita ngga lulus gara-gara sikap kamu,”

Binar tertawa singkat. “Kalaupun ada yang ngga lulus, itu aku, bukan kamu,”

Dan Zen menyadari hal itu sebelumnya. “Iya. Tapi sekarang detik-detik menjelang ujian, ubah sikap kamu lah,”

“Sikap yang mana? Udahlah Zen, kamu buang-buang waktu disini. Nanti aku ke sekolah,”

Sampai pada hari ujian itu, keduanya masih tidak berubah sedikitpun. Zen mendapatkan nilai yang sangat baik. Sedangkan Binar mendapatkan nilai yang lumayan dan ia lulus. Skor tertingginya berasal dari praktik mengajarnya dan skor minusnya berasal dari sikapnya.

Pada hari perpisahan dengan sekolah, itulah hari dimana Zen bertemu dengan Binar untuk terakhir kalinya. 

“Aku dengar nilai kamu bagus ya, Zen?”

“Begitulah. Kamu sebenernya bisa dapat nilai yang lebih tinggi dari aku. Itupun kalau saja kamu bisa meredam idealisme kamu, walau sedikit,”

Binar mengembangkan senyumnya.

“Emang idealisme aku salah? Itu sangat sederhana, Zen. Kejujuran, ketulusan, tanggung jawab profetik,”

“Iya, salah tempat, salah waktu. Mungkin pada saat yang lain, idealisme itu bisa sesuai dan ngga mengorbankan nilai kamu,”

“Kalau pilih-pilih seperti itu, namanya bukan idealisme, tapi plin plan,” Binar tertawa. “Kamu mungkin belum pernah merasakan rasanya melakukan sesuatu di luar nurani. Ya, yang dilakukan kemarin memang seperti kecil, tapi itu berharga. Dan bukan orang lain yang menghargainya, melainkan Allah. 

“Kamu juga mungkin belum pernah merasakan menjadi orang yang berbeda dari sekumpulan orang. Karena minoritasnya, kamu bisa disalahkan siapapun padahal kamu benar. Tapi penilaian-Nya ngga pernah salah dalam keadaan apapun, kepada siapapun,”

“Ya, ya, ya, terserah kamu,” Lalu Zen melenggang pergi meninggalkannya.

——

Pada langit hari ini, setidaknya Zen sedikit demi sedikit merasakan apa yang pernah dirasakan Binar. Sebagai guru honorer, ia melakukan apapun yang diperintahkan atasannya. Apalagi pada musim akreditasi sekolah di tempat Zen, ia semakin sibuk dengan perbaikan administrasi nilai-nilai siswa yang bermasalah. Namun, dalam kesibukannya, dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia sadar bahwa ia tengah melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan hati nuraninya.

Zen membiarkan penanya tersungkur.

“Maaf Pak, saya tidak bisa melakukan ini,”

“Maksudnya apa?”

“Ini namanya manipulasi Pak. Kecuali Bapak sudah melakukan remedial kepada anak-anak, saya pasti akan menuliskannya,”

Seorang guru dengan kumis tebal, lawan bicara Zen, hanya menggeram kesal. Ia kemudian menarik lengan Zen. Zen itu hanya menurut saja. Keduanya berhenti di depan pintu sebuah kelas yang sedang mengadakan ulangan.

“Kau lihat kelas itu, mereka sedang ulangan, tapi apa? Mereka menyontek, Pak Zen. Kau lihat gurunya? Ia diam karena ia tahu, tanpa menyontek, tidak ada nilai yang bagus. Sesering apapun ulangan, remedial, bahkan seserius apapun Bapak mengajar, mereka tidak akan mendapatkan nilai bagus,”

“Mereka belajar untuk mencari ilmu Pak, bukan nilai,”

Bapak itu tertawa sinis.

“Bapak harus sadar, orang tua anak-anak itu hanya senang jika mereka mendapatkan nilai bagus. Mereka tidak akan bertanya, kau dapat ilmu apa dari sekolah. Apa Bapak sudah jelas?” Ia menarik napas panjang. “Saya sering mendapati guru baru dengan idealisme mereka, contohnya seperti Pak Zen. Tapi suatu saat….”

“Pak, lihat anak itu,” ucap Zen sambil memperhatikan seorang murid. “Namanya Roni. Awalnya saya kira, dia adalah anak yang bodoh karena sering mendapatkan nilai kecil. Baru-baru ini saya tahu kalau dia mendapatkan nilai kecil karena tidak menyontek seperti teman-temannya yang lain,”

“Ya! Tentu saja, itulah perbedaannya,”

“Benar tapi justru perbedaan itulah yang merupakan salah kita Pak,”

“Haaah, apa lagi maksudmu Pak Zen?”

Zen tersenyum ringan. “Kita membuat sekolah menjadi urusan bisnis. Ada akreditasi, harus mengorbankan hak dari nilai anak-anak. Anak-anak mungkin senang karena nilai mereka tiba-tiba menjadi nilai KKM, tapi seharusnya bukan seperti itu, Pak. Seharusnya para guru lah yang memberi motivasi agar mereka bisa menaikkan nilai. Tentunya dengan belajar. Dan peran kita ini Pak, suatu saat akan dimintai pertanggungjawabannya di sana, di depan para malaikat.

“Mungkin Bapak berpikir terlalu dini memikirkan pertanggungjawaban akhirat, namun mau bagaimana lagi. Tujuan manusia, cepat, lambat, akan mencapai hari itu. Tidak membiarkan anak menyontek, mengajar sungguh-sungguh, bukan sesuatu yang sia-sia. Ada Allah yang tersenyum melihat para guru yang seperti itu,”

Zen tersenyum.

“Saya akan tetap berada di sekolah ini, tapi saya ingin menjadi seperti ini. Saya sangat menghormati Bapak dan guru-guru lain disini, tapi saya akan mengajar dengan cara saya sendiri. Saya akan lebih memperhatikan Roni dan Roni-Roni yang lain karena mereka adalah anak-anak yang sedang mengejar nilai akhiratnya di samping nilai pelajarannya,”

Zen mengucapkan salam dan meminta izin untuk pergi terlebih dahulu.

Tanpa Zen ketahui, Bapak berkumis itu, dengan tampang seramnya, langsung memasuki kelas. Ia menegur para siswa yang menyontek dan juga menegur guru yang hanya diam melihat situasi kelasnya. Tidak lupa, ia menepuk bahu Roni sebagai tanda bangganya.

Dan Zen?

Ia datang menemuiku setelah sekian lama tidak bertemu. Awalnya, ia mengirimkan SMS, Nar, aku ingin menemuimu

Beberapa menit kemudian, Zen muncul di hadapanku. Ia tersenyum ramah.

“Nar, maaf ya, terimakasih,” katanya.

Yeah. I am Binar. Thats okay, Zen.