Z e n

“Ron, nilai ulanganmu jelek lagi ya?”

“Apa urusanmu?”

Beberapa anak berseragam putih abu itu tertawa. “Jangan sok suci! Itu akibatnya kamu mengerjakan ulangan sendiri!”

Zen melihat kejadian itu. Ia terdiam.

Terkadang, ada kalanya untuk melakukan, membantah, atau menolak sesuatu itu membutuhkan keberanian yang luar biasa. Bahkan jika pun sesuatu itu adalah persoalan yang jelas-jelas benar dan ada dalilnya, ada yang masih tetap membutuhkannya. Ah, tapi memang tidak semua orang membutuhkan keberanian karena beberapa orang mendapatkannya dengan mudah. Dan sayangnya, ia, termasuk orang yang belum mendapatkannya.

“Pak Zen, tolong salin data ini ya? Jangan lupa, ubah nilai siswa yang kurang dari KKM menjadi nilai KKM. Sebentar lagi akan diadakan akreditasi,”

“Data ini…. Maksud saya, Bapak sudah memberi remedial pada anak-anak?”

“Mana sempat, Pak? Saya sibuk. Terima kasih ya,”

Helaan napas berat selalu keluar dari hari-harinya. Sesekali ia melihat langit, sungguh begitu biru dan bersih. Lalu ia bertanya, kenapa dunia tidak seperti itu juga? Kenapa dunia banyak berbohong, memanipulasi, mengambil hak orang lain, dan melalaikan kewajiban? Awalnya ia tidak peduli soal itu, soal-soal seperti kebijaksanaan, tapi lama-lama ia peduli.

Lama Zen terdiam, ia pun tersenyum kaku. Senyum itu sebenarnya adalah tanda ketidakberdayaannya. Beberapa menit kemudian goresan tinta penanya tiba-tiba berhenti. Ia mengingat seseorang yang dulu pernah bersamanya, berada di posisinya seperti sekarang.

“Heh Nar, kamu dimarahin Pak Hatta lagi?”

“Iya,”

“Alasannya?”

“Aku nyantumin waktu pembelajaran di RPP kelas X, 70 menit. Bapaknya minta aku ganti jadi 90 menit. Jelas lah aku nolak. Jadwal kelas X kan di hari jumat, nah di sekolah ini hari jumat beda sama hari yang lain, satu jamnya dikurangi sepuluh menit. So, dua jam pelajaran bukan 90 menit, tapi cuma 70 menit,”

Waktu itu Zen hanya mengangguk saja di depan Binar. Dalam Program Pelatihan Lapangan dari kampusnya yang berlatar belakang keguruan, Zen hanya menginginkan situasi yang kompak bersama rekannya itu. Ya apapun itu, sebenarnya ia sedikit tersiksa dengan idealismenya.

“Ini namanya manipulasi,” celetuk Binar pada lain hari.

Zen berhenti menulis dan meliriknya. Tak lupa ia menarik napas panjang karena tidak henti-hentinya Binar menatap tajam beberapa lembar kertas nilai yang ada di hadapan Zen.

“Ini perintah,” sambung Zen.

“Iya, perintah yang salah,”

Zen kembali menulis.

“Nilai-nilai ini di bawah KKM dan gurunya nyuruh kita ngubah nilai ini jadi nilai KKM. Ini salah, Zen. Kasihan anak-anak ini, ketika mereka ngga bisa mencapai nilai minimal, berarti mereka masih butuh pembelajaran lagi. Nilai yang besar itu ngga akan menyelamatkan anak-anak, sia-sia, toh nyatanya mereka tetep ngga ngerti ke pelajaran,”

Zen tersenyum.

“Kalau nilai yang besar sia-sia, berarti ngga apa-apa kan kalau nilai-nilai ini aku ubah? Seperti kata kamu, sia-sia. Dan anak-anak itu bersekolah, karena nilai. Orang tua mereka juga pasti senang anak-anaknya punya nilai bagus. Orang tua  mereka ngga akan nanya, kamu dapat ilmu apa dari sekolah,”

Kini Binar terdiam. Dan lawan bicaranya sedikit lega karena dapat membuatnya bungkam. 

“Hmm, dan kita disini, karena nilai juga kan? Itu jelas terlihat,” Binar berdiri sambil merapikan ranselnya. “Aku pulang,”

“Mau aku anter?”

Binar menggeleng singkat. “Bukan muhrim,”

Ketika itu, Zen tahu bahwa Binar mungkin sedikit marah kepadanya. Hal seperti ini sudah beberapa kali terjadi. Laki-laki bergolongan darah A sepertinya sepertinya memang tidak cocok dengan golongan darah B sejati seperti Binar.  Zen tidak suka sifat idealisnya dan bicaranya yang terlalu jujur jika bertemu dengan sesuatu yang tidak sepaham. Binar juga selalu santai dalam menghadapi masalah dan tugas. Deadliner.

Kata yang terlintas dari hati Zen sepertinya manjur untuk dijadikan sebagai doa. Sejak pembicaraan dengan Binar waktu itu, ia seperti dijauhkan darinya. Ia jarang bertemu di sekolah maupun di kampus. Ia pun selalu tidak berhasil menghubunginya. Meneleponnya selalu mendapatkan jawaban mesin seperti, “Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Silakan….”. SMS ratusan kali pun tidak pernah mendapatkan balasan, mungkin tidak pernah dibacanya atau diacuhkannya. Facebook atau Twitter sama nihilnya. Aneh. Seharusnya Zen merasa hidupnya damai karena tidak perlu mendengar ocehan Binar atau diajak berdebat secara tidak langsung. Entahlah, ia membenci pengakuan ini, tapi ia merasa kehilangan Si Darah B-nya.

“Kerjaan kamu bagus, Zen. Oh, kenapa sekarang Binar jarang ke sekolah? Bilang sama dia, yang akan memberi kalian nilai itu ya dari sekolah. Kalau dia masih membangkang seperti itu, apa mau ngulang semester depan?”

“Nanti saya beritahu Binar Pak,”

Zen tersenyum ringan.

Beberapa hari setelah itu, banyak orang-orang di sekolah yang membahas Binar. Rata-rata dari mereka tidak menyukai idealisme Binar. Apalagi ketika Binar menolak perintah seorang guru untuk memanipulasi data nilai. Dan terlihat sok benar ketika Binar mulai memahamkan pada para siswa untuk semangat belajar, bukan membeli nilai. Sementara Binar? Benar-benar ia tidak mengindahkan apapun dan siapapun. Sama sekali tidak peduli.

“Sebentar lagi ujian PPL Nar,” kata Zen ketika bertemu Binar di kampus.

Binar hanya tersenyum singkat.

“Dicari Pak Hatta,” kata Zen lagi.

“Iya,”

“Aku bener-bener ngga tahu bagaimana menghadapi kamu. Kamu tahu kan gosip di sekolah, ada mahasiswa magang yang sok idealis, sok bener, sok suci, atau apalah namanya. Dia ngga mau berbaur dengan yang lain, antisosial, introvert, hanya datang karena jadwal ngajar lalu pergi lagi,”

Binar mengangguk.

“Nah kamu jangan seperti itu dong, Nar. Jangan sampai kita ngga lulus gara-gara sikap kamu,”

Binar tertawa singkat. “Kalaupun ada yang ngga lulus, itu aku, bukan kamu,”

Dan Zen menyadari hal itu sebelumnya. “Iya. Tapi sekarang detik-detik menjelang ujian, ubah sikap kamu lah,”

“Sikap yang mana? Udahlah Zen, kamu buang-buang waktu disini. Nanti aku ke sekolah,”

Sampai pada hari ujian itu, keduanya masih tidak berubah sedikitpun. Zen mendapatkan nilai yang sangat baik. Sedangkan Binar mendapatkan nilai yang lumayan dan ia lulus. Skor tertingginya berasal dari praktik mengajarnya dan skor minusnya berasal dari sikapnya.

Pada hari perpisahan dengan sekolah, itulah hari dimana Zen bertemu dengan Binar untuk terakhir kalinya. 

“Aku dengar nilai kamu bagus ya, Zen?”

“Begitulah. Kamu sebenernya bisa dapat nilai yang lebih tinggi dari aku. Itupun kalau saja kamu bisa meredam idealisme kamu, walau sedikit,”

Binar mengembangkan senyumnya.

“Emang idealisme aku salah? Itu sangat sederhana, Zen. Kejujuran, ketulusan, tanggung jawab profetik,”

“Iya, salah tempat, salah waktu. Mungkin pada saat yang lain, idealisme itu bisa sesuai dan ngga mengorbankan nilai kamu,”

“Kalau pilih-pilih seperti itu, namanya bukan idealisme, tapi plin plan,” Binar tertawa. “Kamu mungkin belum pernah merasakan rasanya melakukan sesuatu di luar nurani. Ya, yang dilakukan kemarin memang seperti kecil, tapi itu berharga. Dan bukan orang lain yang menghargainya, melainkan Allah. 

“Kamu juga mungkin belum pernah merasakan menjadi orang yang berbeda dari sekumpulan orang. Karena minoritasnya, kamu bisa disalahkan siapapun padahal kamu benar. Tapi penilaian-Nya ngga pernah salah dalam keadaan apapun, kepada siapapun,”

“Ya, ya, ya, terserah kamu,” Lalu Zen melenggang pergi meninggalkannya.

——

Pada langit hari ini, setidaknya Zen sedikit demi sedikit merasakan apa yang pernah dirasakan Binar. Sebagai guru honorer, ia melakukan apapun yang diperintahkan atasannya. Apalagi pada musim akreditasi sekolah di tempat Zen, ia semakin sibuk dengan perbaikan administrasi nilai-nilai siswa yang bermasalah. Namun, dalam kesibukannya, dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia sadar bahwa ia tengah melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan hati nuraninya.

Zen membiarkan penanya tersungkur.

“Maaf Pak, saya tidak bisa melakukan ini,”

“Maksudnya apa?”

“Ini namanya manipulasi Pak. Kecuali Bapak sudah melakukan remedial kepada anak-anak, saya pasti akan menuliskannya,”

Seorang guru dengan kumis tebal, lawan bicara Zen, hanya menggeram kesal. Ia kemudian menarik lengan Zen. Zen itu hanya menurut saja. Keduanya berhenti di depan pintu sebuah kelas yang sedang mengadakan ulangan.

“Kau lihat kelas itu, mereka sedang ulangan, tapi apa? Mereka menyontek, Pak Zen. Kau lihat gurunya? Ia diam karena ia tahu, tanpa menyontek, tidak ada nilai yang bagus. Sesering apapun ulangan, remedial, bahkan seserius apapun Bapak mengajar, mereka tidak akan mendapatkan nilai bagus,”

“Mereka belajar untuk mencari ilmu Pak, bukan nilai,”

Bapak itu tertawa sinis.

“Bapak harus sadar, orang tua anak-anak itu hanya senang jika mereka mendapatkan nilai bagus. Mereka tidak akan bertanya, kau dapat ilmu apa dari sekolah. Apa Bapak sudah jelas?” Ia menarik napas panjang. “Saya sering mendapati guru baru dengan idealisme mereka, contohnya seperti Pak Zen. Tapi suatu saat….”

“Pak, lihat anak itu,” ucap Zen sambil memperhatikan seorang murid. “Namanya Roni. Awalnya saya kira, dia adalah anak yang bodoh karena sering mendapatkan nilai kecil. Baru-baru ini saya tahu kalau dia mendapatkan nilai kecil karena tidak menyontek seperti teman-temannya yang lain,”

“Ya! Tentu saja, itulah perbedaannya,”

“Benar tapi justru perbedaan itulah yang merupakan salah kita Pak,”

“Haaah, apa lagi maksudmu Pak Zen?”

Zen tersenyum ringan. “Kita membuat sekolah menjadi urusan bisnis. Ada akreditasi, harus mengorbankan hak dari nilai anak-anak. Anak-anak mungkin senang karena nilai mereka tiba-tiba menjadi nilai KKM, tapi seharusnya bukan seperti itu, Pak. Seharusnya para guru lah yang memberi motivasi agar mereka bisa menaikkan nilai. Tentunya dengan belajar. Dan peran kita ini Pak, suatu saat akan dimintai pertanggungjawabannya di sana, di depan para malaikat.

“Mungkin Bapak berpikir terlalu dini memikirkan pertanggungjawaban akhirat, namun mau bagaimana lagi. Tujuan manusia, cepat, lambat, akan mencapai hari itu. Tidak membiarkan anak menyontek, mengajar sungguh-sungguh, bukan sesuatu yang sia-sia. Ada Allah yang tersenyum melihat para guru yang seperti itu,”

Zen tersenyum.

“Saya akan tetap berada di sekolah ini, tapi saya ingin menjadi seperti ini. Saya sangat menghormati Bapak dan guru-guru lain disini, tapi saya akan mengajar dengan cara saya sendiri. Saya akan lebih memperhatikan Roni dan Roni-Roni yang lain karena mereka adalah anak-anak yang sedang mengejar nilai akhiratnya di samping nilai pelajarannya,”

Zen mengucapkan salam dan meminta izin untuk pergi terlebih dahulu.

Tanpa Zen ketahui, Bapak berkumis itu, dengan tampang seramnya, langsung memasuki kelas. Ia menegur para siswa yang menyontek dan juga menegur guru yang hanya diam melihat situasi kelasnya. Tidak lupa, ia menepuk bahu Roni sebagai tanda bangganya.

Dan Zen?

Ia datang menemuiku setelah sekian lama tidak bertemu. Awalnya, ia mengirimkan SMS, Nar, aku ingin menemuimu

Beberapa menit kemudian, Zen muncul di hadapanku. Ia tersenyum ramah.

“Nar, maaf ya, terimakasih,” katanya.

Yeah. I am Binar. Thats okay, Zen.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s