Alamat Harapan

“Hey hey, apa kamu tidak punya kerjaan selain nonton televisi, Er?”

Aku menengok Joni sembari nyengir kuda. Lalu melanjutkan perhatian pada layar televisi yang sempat teralihkan.

“Hah, apa-apaan itu?”

“Maaf, maaf. Ini loh Jon, ada lapas yang kebakaran lagi,” ucapku sedikit serius sambil tetap melototi televisi.

“Kemudian tahanan kabur. Selanjutnya dikerahkan petugas untuk mencari para tahanan. Beberapa tahanan kembali ke lapas setelah ketemu keluarganya, sebagian lagi berhasil ditangkap, sisanya masih belum ditangkap,” Joni menarik napas dalam-dalam. “Apa menariknya? Itu seperti skenario yang kita bisa tebak,”

Aku tertawa. Aku berpikir, apa yang dikatakan temanku itu benar juga. Dan seperti skenario juga ketika dalam sebulan, ada lapas yang kebakaran atau sebab lain yang menyebabkan para tahanan kabur. Ah, apa urusanku? Eh? Aku mengamati kalimat berita di layar televisi tersebut.

“Eh Jon, lokasi lapas itu deket-deket daerah sini!”

Ekspresi Joni biasa saja. “Kalau mereka berniat kabur, mereka ngga akan kabur ke daerah sini. Terlalu mudah dilacak. Tapi, mereka akan langsung pergi ke luar kota, ke luar negeri kalau perlu,” ucapnya sambil memainkan ponselnya.

Aku tertawa lagi. “Kamu yakin mereka sekaya itu? Mereka punya uang buat pergi ke luar negeri?”

Maybe,”

Aku mengernyitkan alis untuk kesekian kalinya ketika mendengarkan ia berbicara. Aku mematikan televisinya, melirik jam dinding yang menunjukkan pukul dua siang, lalu bertampang lemas ketika menyadari toko ini sangat sepi sekali. Jika ayah dan ibu tidak pergi ke rumah nenek, aku mungkin sedang berbaring di kamar, mendengarkan musik, Facebook-an, Twitter-an, atau mengerjakan skripsi. Mungkin.

“Assalamualaikum,”

Spontan aku menengok sumber suara tersebut. “Waalaikumsalam,”

Joni memberi tanda, ada pembeli. 

“Beli apa Pak?” tanyaku ramah. Aku melihatnya dengan biasa, tapi otakku langsung mengeluarkan output bahwa bapak itu sangat tampan. Aku tersenyum. Lama-lama senyumku memudar setelah ia tidak menjawab apapun. Ia terlihat kebingungan dan aku menjadi sedikit kurang nyaman ketika tatapannya mengelilingi sudut tokoku. Kemudian ia melihat batas-batas sekitarnya dengan serius.

“Bapak mau beli apa?” tanyaku lagi.

“Begini saya sedang mencari kontrakan di daerah sini. Apa kamu tahu?” tanyanya sambil membetulkan letak ransel kumuhnya.

Aku terdiam.

“Oh…. Memang Bapak darimana?”

“Saya perantauan. Saya sedang mencari seseorang. Saudara. Dulu dia tinggal di sekitar sini, tapi lokasinya sangat berbeda dengan dulu. Jadi lebih baik saya cari kontrakan,”

Aku mengangguk singkat. Aku memperhatikan lagi. Air wajahnya yang datar, pakaian yang sedikit tidak pas untuk ukuran badannya, membuat aku ragu. Sebenarnya sangat mudah mendapatkan jawaban untuk pertanyaannya tentang kontrakan. Tapi entahlah, apa aku harus memberikan jawaban itu dengan hanya menjamin bahwa ia seorang perantauan dan sedang mencari seseorang? Aku teringat berita televisi, bagaimana kalau ia adalah seorang tahanan yang lepas?

“Bapak butuh tempat tinggal kan? Aku tahu tempatnya,” ucap Joni tiba-tiba.

Aku menatap ke arahnya, memberikan isyarat Heeeey, Jon! Jangaan!. Ya. Bisa aku tebak, ia tidak memahami isyaratku atau pura-pura tidak memahaminya. Yang aku lihat, mereka berdua pergi dari jangkauanku. Aku tidak bisa menerka dengan mudah, siapa sebenarnya laki-laki itu.

“Eh! bapak itu tinggal di rumah kamu?? Serius? Kok bisa?”

“Kontrakan Pa Haji penuh, Er. Lagian ternyata bapak itu ngga punya uang,”

Pusing kepalaku bertambah jadi. Hah, anak ini.

“Jon, Jon, Jon, kamu kan ngga kenal bapak itu jadi jangan,”

“Er, Er, namanya Pak Ihsan. Besok pagi aku mau bantu cari saudaranya itu. Dan jangan cerewet, ibu aku aja ngga secerewet kamu. Dah,” Joni menutup teleponnya.

Malam itu benar-benar membuatku geram.

^^^

Keesokan harinya, aku akhirnya memilih untuk mengikuti mereka berdua, Joni dan bapak itu, Pak Ihsan. Dalam perjalanan, aku tidak berhenti memperhatikan Pak Ihsan. Kali ini, bukan karena ia tampan tetapi ada hal yang membuatku merasa was-was. Ia selalu membawa kertas berisi alamat orang yang dicarinya. Ya. Kertas itu berisi alamat desa ini berpuluh-puluh tahun yang lalu. Seiring perubahan keadaan desa, nomor rumah, pengaturan RT, RW, bahkan blok, alamat yang dituju Pak Ihsan seperti hanya ada dalam sejarah.

“Pak Ihsan, nama orang yang bapak cari itu siapa? Lebih baik kita tanya langsung sama penduduk sini,” tanyaku.

Pak Ihsan terdiam sambil mengamati alamat rumah di secarik kertas lusuh itu. 

“Sampai kapan juga, alamat itu ngga akan pernah ketemu. Alamat itu mungkin ada sewaktu jaman Belanda, tapi sekarang bukan jaman penjajahan lagi,” paparku sedikit kesal.

Pak Ihsan menggeleng tanpa senyum. Ia kembali berjalan. Aku menghembuskan napas kuat-kuat. Sesekali aku melirik Joni yang masih bisa bersikap santai. Ia menurut saja pada bapak itu.

“Hmm Pak, kalau begitu lebih baik kita ke kantor desa. Mungkin mereka punya salinan alamat yang dulu. Jadi kita bisa tahu alamat sekarang dari orang yang Bapak cari,” ungkapku girang.

“Terlalu beresiko Nak,” jawabnya pelan kemudian Pak Ihsan berjalan lagi sambil memandangi rumah orang-orang satu per satu.

Hah? Aku tidak percaya, bapak itu menolak saranku lagi. Melihatku seperti orang yang malang, Joni tertawa.

“Er, kita turuti aja kemauan Pak Ihsan,” kata Joni kemudian.

“Aku heran, kenapa bapak itu mencari cara yang susah, yang tersusah,”

Yeah. Selalu ada alasan, tapi alasan itu kadang bersifat rahasia,”

“Hmm rahasia. Oke sekarang, kenapa kita harus mengekori Pak Ihsan seperti ini? Dia bukan siapa-siapa kita kan?”

“Aku punya alasan sendiri. Dan kamu? Yah, aku ngga butuh tahu alasan kamu,” jawabnya sambil tersenyum kecil.

Aku tersenyum juga. Ya. Aku tidak berharap mengungkapkan alasanku mengikutinya. Aku hanya ingin membuktikan kewaspadaanku kepada Pak Ihsan. 

“Jambreeeeet!”

Suara darimana? Eh, jambret? Aku cepat-cepat menengok ke belakang. Aku melotot. Seseorang bertopeng hitam berlari ke arahku. Di belakangnya banyak warga berlari mengejarnya sambil berteriak. “Jambreeeet! Halangi orang ituuuuu!”

Tubuhku tiba-tiba bergetar. Orang-orang itu menginginkanku menghentikan penjambret. 

“Ngga bisa!” seruku kemudian sengaja duduk terjatuh sambil menyembunyikan wajahku. 

Aku masih menelungkupkan wajahku. Airmataku jatuh membasahi jilbab yang baru pertama kali aku pakai. Huh, aku tidak peduli. Bahkan aku tidak tahu sudah selama apa ketika mendengar suara pukulan kepalan tangan yang kuat, erangan seseorang yang kesakitan,…. Orang-orang meneriakan, Pukul! Hajar! Dan suara seseorang saja yang berkata, “Hentikan Pak Ihsan!” 

Pak Ihsan?Aku mencoba tenang. Aku membuka mata. Dan betapa kagetnya ketika melihat Joni yang berusaha melerai Pak Ihsan. Ya. Orang yang tengah menghajar itu adalah Pak Ihsan. Ia sedang menghajar penjambret yang terlihat tidak melawan sedikitpun. Lalu mereka? Mereka, orang-orang yang mengejar penjambret, terlalu senang dengan keadaan di hadapannya.

Aku? Harus bagaimana?

“Hentikan Pak!!! Nanti Bapak bisa di penjaraaaaa!!” pekik Joni.

Aneh. Pekikan temanku itu membuat dadaku sesak. Airmataku mengalir lagi.

“Bapak mau masuk penjara sebelum bertemu dengan orang yang Bapak cari?!!” seru Joni lagi.

Pak Ihsan mulai menghentikan pukulannya. Ia mengerang-erang meminta maaf karena telah menghajar penjambret habis-habisan. Lalu, orang-orang tersebut membawa penjambret ke kantor polisi, meninggalkan aku, Joni dan Pak Ihsan.

“Er, kamu ngga apa-apa?” tanya Joni Panik.

Aku mengangguk singkat. Melihat jawabanku, Joni kembali mendekati Pak Ihsan, menenangkanya lagi. Aku lemas. Pemandangan apa yang aku lihat tadi? Benar-benar tidak pernah aku berpikir kejadian tersebut, selintas pun.

Azan dhuhur berkumandang. Kita bertiga memutuskan untuk mencari masjid terdekat. Aku duduk di teras masjid, menunggu Joni dan Pak Ihsan yang sedang menunaikan sholat. Angin menerpa wajahku. Segar sekali.

“Er, mau minum? Mau makan?” tanya Joni yang tiba-tiba menghampiriku.

Aku tersenyum ringan. Aku memandangi sebuah warung kopi di depan masjid ini. Mungkin ada minuman dingin yang membuatku…. Eh? Posisinya?

“Jon, posisi warung di depan seperti posisi toko aku ya? Seperti deja vu,”

Aku melirik Joni yang sedikit terkejut. Joni pun tampak mengamati sekelilingnya.

“Mungkin ini alamatnya Er,” ungkapnya senang.

Aku meninggikan alis. “Maksudnya?”

“Di depan toko kamu ada mushola kecil. Di depan warung itu juga ada masjid ini. Pertama kali Pak Ihsan ke toko kamu mungkin karena dia ingat posisi seperti alamatnya yang dulu. Seperti ini. Pak Ihsan berpikir kalau toko kamu adalah warung itu,” jelasnya sambil menunjuk warung yang sederhana.

Segera, aku dan Joni memberi tahu Pak Ihsan. Sebentar saja, raut wajahnya berubah. Ia cepat-cepat berlari menuju warung itu. Aku melakukan apa yang aku lakukan sebelumnya, mengekori Pak Ihsan. Namun, tidak kali ini. Joni mencegahku.

“Kita nunggu disini aja,”

Aku hanya mengiyakan perintah Joni, yang tidak aku ketahui alasannya. Aku malas bertanya kenapa ia mencegahku. Kemungkinan besar, ia tidak akan memberikan alasannya. Huh, apapun alasannya, sebenarnya aku ingin melanjutkan pengetahuanku tentang pertemuan itu. Dari sini, samar-samar, aku hanya melihat Pak Ihsan bertemu dengan seorang wanita dengan dua orang anak. Sepertinya, anaknya laki-laki semua. Apa mereka adalah keluarga Pak Ihsan?

Belasan menit kemudian, Pak Ihsan kembali menghampiri aku dan Joni. Aku segera membangunkan Joni yang sedang tertidur.

“Saya berterima kasih kepada kalian berdua. Saya sudah menemukan orang-orang yang ingin saya temui,” ucap Pak Ihsan.

Aku mengangguk sambil tersenyum. 

“Benar-benar waktu yang singkat. Bapak yakin mau kembali ke sana? Ke alamat yang satunya lagi?” tanya Joni.

Pertanyaan Joni membuat Pak Ihsan terdiam sejenak, begitu pun aku yang tidak mengerti.

“Mau bagaimana lagi? Tidak ada tempat lain. Kadang terbilang beruntung ketika keluarga saya masih bisa tersenyum bahagia ketika melihat saya Nak,”

“Ya, Bapak harus mengingat senyum mereka hari ini. Bersabarlah, dimanapun. Bapak harus bahagia, dimanapun. Kelak, Bapak akan kembali ke rumah itu. Itu adalah alamat harapan Bapak,” tutur Joni lagi.

Pak Ihsan mengangguk. Ketampanannya kini bertambah seiring dengan senyum yang mengembang. Kemudian ia melihatku.

“Namamu Eri? Maafkan saya karena kau sempat melihat saya memukul penjambret tadi. Mungkin itu kejadian yang tidak enak untukmu, Nak. Maaf. Saya minta maaf pada kalian,”

“Iya, sama-sama. Aku juga minta maaf Pak,” ucapku.

Itulah akhir dari pertemuanku dengan Pak Ihsan. Ya. Tentu saja, masih banyak tanda tanya di kepalaku. Sangat banyak. Tapi, siapa yang mau menjawabnya. Aku melirik seseorang yang masih setia berjalan di sampingku.

“Kalau keluarga Pak Ihsan ada disini? Kenapa Pak Ihsan pergi ke tempat yang lain, Jon?” tanyaku nekat.

Joni hanya tersenyum singkat. Aku juga mengekorinya untuk tersenyum. Aku tidak akan menyalahkan siapapun untuk alasan yang tidak aku dapatkan. Walaupun aku kesal. Aku menarik napas dalam-dalam. Bersabarlah, dimanapun. Bapak harus bahagia, dimanapun. Kelak, Bapak akan kembali ke rumah itu. Itu adalah alamat harapan Bapak. Kata-kata itu, bermakna.

“Pak Ihsan itu bagian kecil dari skenario kebakaran lapas, Er. Pertama kali dia datang ke toko, dengan pakaian yang mungkin ia pinjam sehingga ngga pas dengannya, tapak borgol seperti sudah bertahun-tahun di kedua lengannya, aku mulai berpikir bahwa dia punya maksud yang unik.

“Malamnya aku melihat seragam tahanan lapas di dalam ransel Pak Ihsan. Lalu kamu menelepon Er,” ucap Joni.

Aku terperangah. Yah, mau bagaimana lagi? Ini kenyataan yang menurutku, tidak masuk akal.

“Oke. Kamu sebegitu percaya pada Pak Ihsan padahal kamu tahu dia siapa. Beruntung dia ngga berniat kabur Jon,”

“Itu alasannya aku mengekori Pak Ihsan,” Joni tertawa. “Keluarga itu bisa jadi magnet untuk tetap tinggal. Apalagi tempat bandingannya, penjara. Jadi aku sedikit khawatir kalau Pak Ihsan ngga mau kembali setelah ketemu keluarganya,”

Aku mengangguk. Aku kembali berpikir ke belakang. Mungkin itulah alasannya kenapa Pak Ihsan ingin menemukan alamatnya sendiri. Ia tidak ingin menanyakan pada orang lain karena ia tidak ingin dikenali. Ia tidak ingin melibatkan nama keluarganya yang bersih. Cukup dirinya yang tercoreng sebagai tahanan. 

Begitu juga ketika dalam pemukulan penjambret tadi, Pak Ihsan melemah ketika Joni menenangkannya dengan menyebutkan kata penjara. Apa Pak Ihsan langsung membayangkan dirinya masuk ke dalam penjara? Maybe.

Aku terdiam sejenak. Begitu memilukan.

Joni yang tengah berjalan tiba-tiba berhenti.

“Kayaknya kita butuh alamat harapan juga Er,”

“Eh?”

“Kita nyasar,”

Eh? Haha.

^^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s