Mendadak Logan

Ini cerita tentang hari kemarin. 

Aku mendadak pengen jalan-jalan. Aku pun langsung mengirim pesan singkat juga Whatsapp ke beberapa reman kerja.
“Bu, jalan-jalan yuu,”
Kurang lebih isinya seperti itu. Ada yang respon, ada juga yang tidak dibalas. Ah, sepertinya ndak ada pulsa.
Lalu, siang harinya, Si Mamah cantik nge-WA.

Yup. Aku langsung balas, “ikuuut”.
Akhirnya, kami berempat jalan-jalan. Nonton. Bukan nonton Surga yang Dirindukan, terapi Logan. Haaha. Yaa, karena diantara kami ada bapak-bapak yang Ingin menghilangkan penat karena pekerjaan di sekolah.

Aku sudah membayangkan Si Logan dengan adamantiumnya. Dan memang seperti itu, aku harus beberapa kali menutup mata karena adegan yang potong sana potong sini. Darah. Tubuh yang ditusuk. Hadeuh

Hebatnya, film yang sebegitu darahnya juga membuatku terharu.

Bagaimana selama itu, Charles yang sudah tua tinggal di tangki besar. Logan memberinya makan dan minum obat. Diberi sedikit cahaya dan dengan cahaya itu, tumbuhan hidup didalamnya. Ia selalu bertanya, kenapa ia harus hidup seperti itu. Bahkan Bukan hidup namanya.

Lalu ada hari dimana Charles dan Logan harus menginap di rumah keluarga yang ditolongnya. Awalnya Logan menolak namun karena itu adalah keinginan Charles, jadilah mereka menginap.
Beginilah kehidupan. Hidup bersama orang-orang yang menyayangi kita. Makan. Bercanda. Bertengkar. Tidur. Begitu sederhana.

” This is what life looks like. People who love each other, our home. You should take a moment. Feel it. You still have time.”

“This was the most perfect night I’ve enjoyed in a very long time.”